Raden Surodipo & Dewi Condro Wulan Sari Tokoh Penyebar Islam Di Desa Trosono Kecamatan Sekaran

By Ogi.aslilamongan Posted On Jun 18, 2017

aslilamongan.com | Desa Trosono merupakan salah satu desa yang terletak ditengah-tengah perkebunan dan jauh dari kota metropolitan. Desa tersebut terbilang unik karena dikelilingi dengan berbagai macam perkebunan mulai dari tanaman padi, jagung, melon, semangka mulai dari ujung barat, timur, selatan dan utara. Desa yang letaknya berada di Kecamatan Sekaran itu merupakan salah satu desa penghasil tanaman Padi dan Buah semangka terbesar yang ada di Kecamatan Sekaran bahkan sampai tingkat Kabupaten tutur kata yang pernah disampaikan mantan Bupati Lamongan yakni H.Masfuk saat kompetisi lomba Desa yang terletak dibagian paling selatan di Kecamatan Sekaran tersebut mempunyai banyak cerita rakyat diantaranya adalah salah satu tokoh penyebar agama Islam yaitu Raden Surodipo atau biasanya penduduk setempat menyebutnya Mbah Palang dan Dewi Condro Wulan Sari. Raden Surodipo & Dewi Condro Wulan

Raden Surodipo & Dewi Condro WulanRaden Surodipo merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam di Desa setempat. Beliau sendiri merupakan salah satu prajurit dari kerajaan Majapahit yang sekarang berganti nama menjadi Mojokerto. Mbah Nawawi Tuban salah satu tokoh yang membuka makam beliau menceritakan bahwa Raden Surodipo alias Mbah Palang merupakan Prajurit Majapahit yang pernah nyantri (berguru untuk memperdalam ilmu agama Islam) kepada Syekh Ibrahim Asmoroqondi atau Syekh Ibrahim As-Samarqandi yang dikenal sebagai ayahanda Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) yang makamnya terletak di Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban.

Advertising

Sampai pada akhirnya Raden Surodipo alias Mbah Palang mempunyai keinginan yang kuat didalam hatinya untuk memeluk agama Islam hingga pada akhirnya beliau mengucapkan syahadat dan disaksikan para santri-santri beliau. Setelah sekian lama mempelajari ilmu agama Islam akhirnya beliau diutus oleh gurunya Syekh Asmoroqondi untuk berdakwah di daerah Timur dari Bengawan Solo dan ditemani  istrinya yang bernama Dewi Condro Wulan Sari Putri Raja Bintoro dari Champa adik dari Syekh Asmoroqondi atau Bibi Raden Rahmatullah (Sunan Ampel).

Beliau sempat berhenti disalah satu Desa Keting yang dulunya merupakan bekas pelabuhan atau tempat lewatnya para wali. Beliau diperkirakan datang ke Desa Trosono mulai tahun 1400-an, ketika Majapahit “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Pendapat tersebut dikuatkan dengan adanya sebuah prasasti timbul quadrat yang ditemukan tidak jauh dari area lokasi makam. Masih kata Mbah Nawawi Tuban saat beliau selesai berhenti di pelabuhan beliau berdua melanjutkan kembali perjalanannya ke arah timur dan berhenti di antara 2 pohon besar yaitu pohon sono dan 2 bunga mungkin itulah cikal bakal nama dari Desa Trosono.

Menurut buku Atlas Wali Songo karya KH. Agus Sunyoto Ketua PP LESBUMI NU pada era tahun tersebut khususnya masyarakat jawa masih kental dengan agama Hindu, Budha dan Kapitayan, agama Islam ada akan tetapi belum banyak diminati dari kalangan kaum kawulo atau gusti. Agama Islam bisa berkembang begitu pesat di Desa Trosono salah satunya melalui perjuangan dakwah dari Raden Surodipo dan Dewi Condro Wulan Sari. Pola metode dakwah yang dipakai adalah secara lenient yakni secara lemah lembut dan memberikan kesenangan apa yang diinginkan oleh penduduk setempat. Beliau berdua sempat mendirikan sebuah bangunan padepokan (tempat mengajarkan agama Islam) dan balai pertemuan. Dalam perkembangan agama Islam ditanah Jawa sangat dipengaruhi oleh Cina, dalam catatan Markopolo Tahun 1292 khususnya didaerah Perlak yang hari ini berganti nama menjadi Aceh ditemukan bahwa penduduk disana mayoritas Cina sudah beragama Islam. Kalau kita melihat kembali literatur historis Tahun 1405 kunjungan Laksamana Cheng Ho ke Indonesia dan beliau singgah di Tuban berserta rombongannya bahwa 1000 lebih didaerah pesisir pantai seluruh keluarga Cina sudah memeluk agama Islam. Hal tersebut menunjukkan bahwa tendensius penyebaran agama Islam di Jawa sangat didominasi dan dipengaruhi oleh Cina.

Pendapat tersebut semakin kuat dengan ditemukannya beberapa pecahan kronik Cina yang ditemukan di area lokasi makam, bahwa dulunya masyarakat Desa Trosono masih gemar dalam mengoleksi dan menyukai barang dagangan Cina. Sedangkan kalau dilihat dari letak geografis 500 meter jarak dari Desa Trosono sampai ke Desa Miru ada salah satu pesarean Abu Huroiroh beliau merupakan Santri Raden Rahmatullah (Sunan Ampel), 250 meter ke arah timur ada salah satu keluarga dari Raden Surodipo yang dimakamkan di Desa Latek. Dari embrio sinilah mulai muncul perkembangan Islam di Desa Trosono dan di desa sekitarnya. Sampai hari ini makam beliau masih terawat dan berada dipemakaman umum dengan nisan batu bata yang berdiameter dengan panjang 5cm.

 

Silsilah makam yang berada di Desa Trosono

1.Raden Wijaya – Tribuana Tungga Dewi – Raden Aryo Banjaran – Raden Aryo Mentaun – Raden Aryo Randu Gunting – Raden Aryo Tanduran – Raden Surodipo (Mbah Palang).

2.Dewi Condrowulan (Adik Sunan Asmoro Qondi atau Bibi Raden Rahmatullah Sunan Ampel)

3.Sunan Asmoro Qondi – Sunan Ampel – Sunan Drajat – Raden Sanji – Raden Wingisangi – Nyai Fatimah Sari

4.Mbah Wirojati (Mbah Rosyid)

5.Raden Wijaya – Kencono Wungu – Hayam Wuruk – Gerinda Wardhana – Raden Purwawi – Raden Tronowijo (Abdul Fattah).

Penulis: Muhammad Nur Rofiq

Loading...

Raden Surodipo & Dewi Condro Wulan Sari Tokoh Penyebar Islam Di Desa Trosono Kecamatan Sekaran

Jun 18, 2017 - Posted by Ogi.aslilamongan - No Comments